Ada aspek-aspek yang di luar ranah dan tanggung jawab production house — dan masih merupakan responsibility-nya brand, di antaranya adalah apa objective brand yang mau dicapai –mau di bawa ke mana melalui konten tersebut–dari film yang diproduksi sebagai branded content.
Yang kedua adalah core brand, yaitu elemen-elemen identitas brand yang selalu menyertai dalam setiap touch point dengan customer.
Mari kita bahas apa saja kesalahan umum yang dilakukan oleh brand dalam konteks pemilihan production house (PH).
Ragu-Ragu Soal Biaya
Biaya akan dirasakan terlalu besar ketika dampak dari film tidak worth it. Sementara kita tahu bahwa dampak film baru akan terukur belakangan.
Namun, terlalu hati-hati dengan biaya juga bisa “dijawab” dengan pemberian slot seadanya oleh PH.
Abai terhadap Portfolio dan Style
Yang perlu dibangun secara konsisten oleh brand dalam setiap konten adalah tone; apakah inspiring, komedi, dlsb. Nah, tone yang direncanakan tersebut merupakan kerangka acuan, apakah portfolio maupun style yang ditawarkan oleh PH cocok dengan kerangka acuan yang sudah ditetapkan.
Tidak Memahami Sutradara
Sutradara adalah peracik yang ‘make or break‘ hasil audio-visual yang dibuat. Signifikan atau tidak dampak yang diberikan, bergantung pada ‘tangan dingin’ sutradara. Sehingga, nama sutradara adalah sesuatu yang biasa ditawarkan oleh PH kepada brand.
Masalahnya, sutradara bukan karyawan organik suatu PH. Mereka bisa berkontrak pekerjaan dengan PH manapun. In a way, sifat komunikasinya dengan PH adalah koordinatif; bukan directive.
Jadi, perlu ada komunikasi yang berkualitas antara brand dengan calon sutradara mengenai ‘karya’ audio-visual yang akan dikembangkan. PH bisa menjembatani komunikasi tersebut.
Salah Membuat Brief
Brief adalah satu-satunya dokumen yang menjadi pegangan bagi para PH selaku calon vendor. Salah memberikan konteks yang lengkap dan detil bisa menyebabkan brief tersebut salah diinterpretasikan dan ditangkap/dipahami.
Ambiguitas pada brief dapat dikurangi dengan pelaksanaan oral presentation dari sisi brand; selain berisi penjelasan, sesi tersebut merupakan momen konfirmasi dari PH kepada brand.
Ketepatan Timeline
Momentum is a key. Dalam menghadapi persaingan dengan brand-brand lain, eksekusi pada waktu yang tepat adalah segalanya. Iklan yang sering diandalkan untuk membangun awareness, harus masuk dengan pesan yang tepat pada waktu yang tepat.
Jangan sampai, telatnya PH men-deliver hasil kerja mereka berdampak pada telatnya brand membangun awareness.
Itu dia 5 kesalahan umum yang biasa dilakukan oleh brand perihal kerja sama dengan production house, sebagai partner dalam membangun brand.
Leave a Reply